Oleh: Mochamad Ismail
Kalimat pada judul “FPI keyword paling populer saat ini?” bukanlah hasil survey seperti yang biasa dilakukan oleh perusahaan riset seperti SRI [Survey Riset Indonesia] atau hasil pencarian Gooogle Keyword Tool. Tapi ini hanya rekaan saya saja berdasarkan tingginya frekuensi berita diberbagai media massa termasuk internet yang menyorot peristiwa monas dimana isu sentralnya adalah FPI [Front Pembela Islam], AKKBB [Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan] dan Ahmadiyah serta Monas sebagai sentral peristiwa.
Maka bila dilihat dari kemudahan membaca dan kemudahan mengingat “FPI” menurut saya tentunya nomor satu [paling populer] atau mungkin bisa saja “Monas”.
Padahal FPI atau Monas adalah kata-kata yang selama ini biasa kita dengar dan rasanya biasa-biasa saja dengan kata-kata singkatan tersebut meski FPI sempat menarik perhatian masyarakatbeberapa waktu lalu khususnya pada bulan Ramadhan. Tapi tidak menjadi “boom” seperti ketika peristiwa Monas terjadi saat ini.
Keyword FPI saya kira akan tergantikan dengan keyword lain sesuai dengan isu yang paling populer di masyarakat. Karena sebelum peristiwa kekerasan di monas terjadi keyword yang paling populer menurut saya adalah BBM. Adalagi istilah BLT [Bayar Langsung Tunai} tapi saya tidak yakin ini menjadi keyword populer karena tidak semua orang “ngeh” dengan kata singkatan ini.
Saya jadi teringat dengan sebuah konsep komunikasi terutama di bidang marketing komunikasi atau advertising. Untuk mengangkat nama sebuah merk yang baru atau sudah tenggelam agar menjadi populer di masyarakat dalam hal ini target konsumen khususnya adalah dengan menciptakan “trigger” [pemicu] agar orang-orang “ngeh” dan memperhatikan merk tersebut. Salah satunya adalah dengan menciptakan key word. Meski sebenarnya bukan hanya keyword, masih banyak cara lain seperti key sound atau key visual tapi untuk hal ini mohon maaf tidak saya bahas disini mungkin dalam artikel lain dengan topik khusus.
“Kasih daaah…!”, “Sampe puaaas”, “orang pintar minum…..”, “Nyamuk sini cuma takut….” adalah beberapa contoh keyword yang populer dan diingat oleh masyarakat.
Peran media massa terutama TV sebagai media yang paling banyak di lihat sangat mempengaruhi keberhasilan keyword yang diciptakan meski sebenarnya yang paling penting adalah implementasi kreatif iklannya itu sendiri seperti apa. Sebab meskipun keywordnya bagus tapi implementasi iklannya tidak mendukung, tidakk menarik, atau frekuensi tampilannya hanya sekali-kali tentunya tidak akan dapat membentuk keyword populer. Ini juga sebaiknya saya bahas dalam artikel khusus mengenai implementasi kreatif sebuah iklan.
Berminat menciptakan keyword di masyarakat? Tentunya yang tidak melanggar hukum, tidak melanggar norma agama atau SARA. Atau hanya menciptakan keyword di internet melalui blog?
Seperti biasa bila anda ingin berkomentar atau memberi masukkan, dengan senang hati saya menerimanya. Salam…

